Rumah

Perkampungan Meratus (Naskah dan Foto oleh Muhammad Padli)

Baru saja aku selesai membaca sebuah cerpen “Jalan Teduh Menuju Rumah” karya penulis terkemuka, Kurnia Effendi. Sebuah cerpen yang bercerita tentang rumah yang dimaknai bukan semata-mata dalam demensi fisik, tapi lebih dari itu ia menjangkau demensi rohaninya. Rumah di gambarkan sebagai tempat yang melahirkan rangkaian berkasih sayang, yang memberi kedamaian hati tempat bersemainya kerinduan, sebuah makna cinta dari perspektif berbeda.

Continue reading “Rumah”

Iklan

Surga Yang Mengalir di Bawahnya Sungai-Sungai

Sungai Martapura dengan latar Jembatan Dewi di salah satu sudut Kota Banjarmasin (Naskah dan Foto oleh Muhammad Padli)

Kekasih, jangan kau tanya

apa itu surga

Sebab surga yang kau maksud

dan surga yang ku mengerti mungkin berbeda

 

Continue reading “Surga Yang Mengalir di Bawahnya Sungai-Sungai”

Refleksi Akhir Tahun: Catatan Syafaat Batang Banyu Lingkar Maiyah Banjarmasin 31 Desember 2017

Malam pergantian tahun semakin larut. Panggung Bauntung Kampus Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Brigjen H. Hasan Basri, di sudut kota Banjarmasin yang semarak oleh ribuan cahaya kembang api, bergema tatkala puluhan jamaah Maiyyah Lingkar Banjarmasin yang tergabung dalam Syafaat Batang Banyu, serentak bertepuk tangan setelah Film Dokumenter “Bara di Bongkahan Batu” dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan selesai diputarkan.

Continue reading “Refleksi Akhir Tahun: Catatan Syafaat Batang Banyu Lingkar Maiyah Banjarmasin 31 Desember 2017”

Bersilaturahmi dan Berlomba : Banjarmasinpost Agustus 2015

Banaik pinang yang menjadi bagian dari perayaan hari raya Idul Fitri di Bakarung, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. (Naskah dan Foto oleh Muhammad Padli)

Kumandang takbir, tahmid dan tahlil menggema, pertanda hari yang fitri telah tiba. Hari spesial bagi Umat Islam di belahan dunia, hari raya utama selain Hari raya ‘Iedul Qurban (‘Iedul Adha), momen untuk berkumpul kembali bersama sanak keluarga. Continue reading “Bersilaturahmi dan Berlomba : Banjarmasinpost Agustus 2015”

Nasehat di Warung Lontong

Seporsi Lontong (Naskah oleh Muhammad Padli)

Ketika memilih sebuah warung makan, saya biasanya terlebih dahulu menimbang-nimbang dan berusaha mencari apa yang cocok dengan kantong dan lidah saya. Kebanyakan warung, apalagi yang berada diperkotaan, biasanya berat dikantong, apalagi bagi saya yang notabene masih berstatus mahasiswa dan sering mengalami “kantong kosong”. Untuk mencari warung yang baru, saya biasanya berusaha mencari tempat yang nyaman, rasa yang pas, dan tentunya harga yang bersahabat. Kadang-kadang saya bisa menemukannya dengan mudah. Namun seringnya saya memerlukan waktu yang lama untuk menemukannya.

Continue reading “Nasehat di Warung Lontong”

Menengok Wajah Islam di Mesjid Pusaka Banua Lawas

Mesjid Pusaka Banua Lawas (Naskah dan Foto oleh Muhammad Padli)

Ritus keagamaan memang selalu menyajikan kekhasannya. Nuansa tempat ibadah antar agamapun selalu menarik untuk dipelajari. Kalau menelisik sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yang kemudian berkembang secara masif sejak abad ke-16 bahkan abad ke-14, mesjid tentulah menjadi sebuah tempat yang paling utama. Lazimnya, mesjid-mesjid tua di Indonesia, mesjid-mesjid di Kalimantan Selatan juga memiliki sejuta rahasia yang menyimpan daya tarik dan juga kearifan tersendiri.

Continue reading “Menengok Wajah Islam di Mesjid Pusaka Banua Lawas”

Pulau Birah-Birahan: Nyanyian Alam Bumi Saijaan

Jernih laut dan pasir putih terangkai indah dengan balutan pepohonan di Pulau Birah-Birahan. Di tempat ini alam mengajak siapa saja untuk berdiskusi. (Naskah dan Foto oleh Muhammad Padli)

“Dimana kita berlabuh, disana ada ombak. Ombak yang besar, ombak yang kecil. Kalau sudah kaya Lamborgini, kalau belum kaya, lembur sana-lembur sini.” Karak mencoba menjadi seorang penyair. Prosesi percobaan itu belum berhenti menggelitik. Kata-kata “Dimana kita berlabuh, disana ada ombak…” memecahkan senyap malam dengan kelakar kami. Canda kami tak berhenti, dari bibir pantai, soal ikan-ikan dan terumbu karang yang sangat berpotensi menjadi objek wisata, hingga bait syair absurd Karak yang menggema.

Continue reading “Pulau Birah-Birahan: Nyanyian Alam Bumi Saijaan”